Kamis, 04 April 2013

Tugas Bahasa Indonesia 'waktu kuliah'


Awal 
BERONDOLAN
DISUSUN UNTUK MEMENUI TUGAS MATA KULIAH BAHASA INDONESIA





DISUSUN OLEH:
MELDALINA AGUSTINA MARE-MARE
0808738
PENDIDIKAN KIMIA B 2008





UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA Dan ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA
BANDUNG
2009




BERONDOLAN

Akhir-akhir ini Pemerintah sedang menggalakkan pengalihan bahan bakar minyak tanah (kerosin) ke gas (LPG). Namun penggalakkan ini kurang  begitu terlaksana kususnya bagi masyarakat menengah kebawah.
Mengapa bagi masyarakat menengah kebawah? Jawabannya suda tidak asing lagi, yaitu mahalnya harga gas. Selain itu, sulit untuk mendapatkannya khususnya di daerah-daerah terpencil.
Seperti di Desa Sialang Baru, Kecamatan Lubuk Dalam, Kabupaten Siak, Riau, masyarak sangat sedikit yang menggunakan kompor gas (LPG) untuk memasak, anya berkisar 10%. Sekitar 30% menggunakan kompor dengan bahan bakar minyak tanah dikarenakan lebih mudah untuk mendapatkannya. Selain itu arga kompor gas jauh lebih mahal dibandingkan dengan harga kompor minyak tanah (Lisma, seorang ibu rumah tangga sekaligus Pegawai Negeri.
Namun ada juga masyarakat yang menggunakan kompor dengan bahan bakar minyak tanah dan terkadang juga menggunakan kayu bakar. Mereka menggunakan kayu bakar dan berondolan. Kayu bakar yang digunakan biasanya diambil dari hutan-hutan terdekat. Ada juga yang mneggunakan pelepah sawit sebagai pengganti kayu dari hutan. Pelepah-pelepah tersebut digunakan setelah dikeringkan dengan cara menjemurnya di tempat yang terkena sinar matahari langsung. Namun penggunaannya tidak bisa digunakan langsung sebagai bahan bakar untuk memasak karena kayu tersebut tidak dapat menyala langsung jika hanya menggunakan korek api. Masyarakat sekitar menggunakan berondolan sebagai bahan pembantu untuk menyalakan kayu bakar tersebut.
Foto buah sawit
Apa yang dimaksud dengan berondolan? Bagaimana menggunakan berondola? Dari mana ditemukan berondolan? Untuk apa berondolan itu?
Begitu mendengar kata berondolan, pertanyaan-pertanyaan seperti itu langsung bermunculan di pikiran kita bukan? Warga sekitar mengatakan berondolan sebagai buah sawit yang sudah tua, yang sudah tidak melekat lagi pada tandannya. Ciri-ciri berondolan ini adalah warnanya sudah merah tua atau merah kehitaman. Namun berondolan ini pun tidak bisa langsung digunakan. Untuk menggunakannya, berondolan ini telebih dahulu dijemur di bawah terik matahari. Waktu penjemuran sangat sulit untuk diperkirakan dikarenakan perbedaan kondisi berondolan saat jatuh dari tandannya. Biasanya hanya dengan beberapa kali penjemuran, berondolan tersebut sudah dapat digubakan. Ciri-ciri berondolan yang sudah dapat digunakan dengan baik adalah warnanya sudah hitam kecokelatan. Saat ingin digunakan, berondolan tersebut terlebih dahulu di tumbuk bagian ujung sampai memar, kemudian dibakar dengan korek api. Setelah berondolan tersebut menyala barulah diletakkan  kedalam tungku, kemudian barulah kayu-kayu tersebut disusun sedemikian sehingga memungkinkan untuk terjadinya pertukaran udara, karena proses pembakaran hanya akan terjadi jika jumlah oksigennya cukup.
Secara ekonomis, penggunaan kayu bakar dan berondolan memang sangat menguntungkan. Mudah didapat dan harganya tidak mahal. Namun ada kekurangan menggunakan kayu bakar dan berondolan ini, dapur tempat kita memasak bisa menjadi hitam karena proses pembakaran yang tidak sempurna yang menghasilkan asap hitam. Selain itu, jika sedang musim pengujan, maka kayu bakar akan basah dan berondolan tidak kering, sehingga proses memasak pun akan terbengkalai. Oleh karena itu, biasanya para ibu rumah tangga tetap menyediakan kompor dengan bahan bakar minyak tanah di rumahnya.
Secara kimia, pembakaran yang tidak sempurna ini sangat tidak efektif. Selain menyebabkan dapur menjadi hitam, pembakaran yang tidak sempurna ini menimbulkan asap yang sangat berbahaya jika terlalu sering dihisap. Hal yang ditimbulkan adalah sesak napas, mata pedi dan jika melakukan pengecekan darah, maka darah kita akan sangat kental dan berwarna merah kehitaman (merah tua, bukan merah). Al ini terjadi karena kandungan gas karbon monoksida dalam asap sangat banyak. Selain itu, pembakaran yang tidak sempurna ini juga dapat menyebabkan kerusakan ozon.
Sampai saat ini, memasak dengan menggunakan tungku belum mendapat tanggapan yang serius dari kalangan pemerinta maupun para ilmuan. Sedangkan para ibu rumah tangga asyik dengan kemurahan dan kemudahan menggunakan tungku untuk memasak tanpa menghiraukan akibat yang ditimbulkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar