Cerita seorang putri yang sedang berusia 22 tahun 5 bulan 15 hari. Saat itu sang putri benar-benar ingin menulis sesuatu setelah hampir 10 jam membaca huruf-huruf yang menangis, menonoton televisi yang tak pernah bosan membual dengan fakta-fakta terkini, mendengarkan para manusia tertawa dan berusaha ikut bahagia dalam tertawa mereka, yia, sang putri tidak lupa minum asupan vitamin dari asisten wortel dan serat dari OB jelly. Semua dilakukan sang putri dalam kesendiriannya. Terkadang sang putri merasa sangat bahagia dengan dunianya, semua yang diinginkan sang putri tersedia dengan mewahnya. Tapi, tetap, ada semut kecil nakal yang membuatnya menangis, bahkan hanya dengan gigi semut kecil sang putri menangis tersedu-sedu dan tak satu pun dari dayangnya yang mampu menghibur hatinya. Sungguh, putri yang sangat arif. Berjalan dalam pendiriannya yang teguh. Dia selalu bijaksana pada semua dayang, keluarga dayang, teman dan sahabat para dayang pun mengakuinya. Semua kerabat para dayang boleh menemui para dayang kapan pun, 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Hanya ada satu saat tertentu para dayang tidak diperkenankan bertemu dengan para kerabat, yaitu setiap hari pada waktu yang dayang tersebut tetapkan untuk menghadap sang penciptanya, selebihnya, kerabatnya free zone.
Itulah gambaran keadaan putri. Di antara 10 jam dia menyaksikan huruf-huruf tersebut menangis, sang putri memutuskan untuk membawa huruf-huruf tersebut menyaksikan hujan. Sang putri berbisik pada lembaran tersebut: “hai Putih (begitu sang putri menyebut kertas), tahu kah kamu darimana tempat air hujan yang menetes tepat di depan kita saat ini? Aku ingin sekali berada di tempatnya seandainya aku tahu berapa tingginya dari tempat kita sekarang. Aku ingin jatuh bersama air hujan tersebut. Aku ingin jadi air. Aku ingin sampai di lautan. Bahkan meski aku harus mencucurkan keringat dan darah keluar dari tubuhku, aku tetap ingin sampai ke lautan. Setelah sampai di lautan, aku pasti ditarik kembali oleh para pengawal untuk kembali menjadi seorang putri yang anggun, cantik, ramah, lemah lembut, santun, arif, bijaksana, disiplin, manis, dan pasti menjadi seorang putri yang ditunggu oleh semua petinggi untuk menandatangani berkas. Tapi yakinlah, setelah semuanya kulakukan, aku ingin kembali berada di lautan. Aku ingin berkenalan dengan pangeran ikan, raja paus, mawar laut, yia, aku ingin menjadi putri yang bisa selalu bersama dengan semua rakyatnya”.Si kertas sambil mendengarkan bisikan sang putri juga berpikir dan membayangkan semuanya. Setelah sang putri selesai berbisik, sang kertas yang saatnya berteriak dengan keras: “hei putri, semua itu mengalami penyederhanaan. Apa yang putri bisikkan tadi hanyalah khayalan anak yang sedang membaca cerita boneka orang kaya. Tahukah putri, bahwa banyak yang putri bisa lakukan, putri bisa menyederhanakan penderitaan masyarakat putri bisa menghibur yang sedang membutuhkan. Saya tahu, mungkin putri merasa semua seperti sebuah keharusan dan beban. Tapi percayalah putri, penyederhanaan itu sangat dibutuhkan. Penyederhanaan itu tidak sesederhana itu”, si kertas berteriak meski huruf-huruf yang ada padanya masih menangis.
Sang putri merasa terharu mendengar teriakan si putih. Sang putri merasa, bahkan si putih saja menganggap dirinya sangat istimewa, mungkin karna saya menghiasi si putih maka si putih berpikir seperti itu (dalam benak sang putri).
Sekarang sang puttri kembali pada aktifitasnya yang formal, menandatangani berbagai arsip dan mempersiapkan diri untuk rapat esok hari. Esok adalah hari yang mungkin panjang buat sang putri. Sang putri akan bangun pagi, menyiapkan diri, dan akan bertemu dengan kolega bisnisnya. Yang pasti tidak akan terlewatkan, jadwal sang putri esok adalah bimbingan skripsi dengan pembimbing II jika pembimbing II bersedia.
Sepanjang malam, dalam istirahatnya sang putri tak lupa selalu menyebutkan nama tersebut dalam nama-Nya. Sang putri meminta agar diberi kekuatan untuk esok dan juga diberi kesempatan untuk bimbingan dengan pembimbing II. Sang putri percaya, semua sudah ditetapkan dan sang putri hanya tinggal berjalan. Sang putri akan selalu menjadi putri yang anggun, cantik, ramah, lemah lembut, santun, arif, bijaksana, disiplin, manis, dan pasti putri yang penuh harapan. Sang putri akan terus belajar.
Notes untuk memahami cerita:
Sang putri adalah seorang mahasiswi yang esok hari akan memasuki semester 10. Tugasnya tinggal menyelesaikan skripsi yang dari pertengahan desember tahun 2012 belum ada bimbingan “yang berarti” dengan pembimbing II.
Semua dunia khayalannya benar-benar khayalan yang nyata, bukan fiktif belaka. Kalau ada satu kesamaan, mungkin itu kesamaan karakter saja. Jadi tetaplah menjadi sang putri dalam dirimu.
31012013
23.05 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar