Revisian
BERONDOLAN
DISUSUN
UNTUK MEMENUI TUGAS MATA KULIAH BAHASA INDONESIA
DISUSUN
OLEH:
MELDALINA
AGUSTINA MARE-MARE
0808738
PENDIDIKAN
KIMIA B 2008
UNIVERSITAS
PENDIDIKAN INDONESIA
FAKULTAS
PENDIDIKAN MATEMATIKA Dan ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN
PENDIDIKAN KIMIA
BANDUNG
2009
BERONDOLAN
Akhir-akhir
ini, pemerintah sedang menggalakkan pengalihan bahan bakar minyak tanah
(kerosin) ke gas (LPG). Namun penggalakkan ini kurang begitu terlaksana
kususnya bagi masyarakat menengah ke bawah.
Mengapa
bagi masyarakat menengah kebawah? Jawabannya suda tidak asing lagi, yaitu
mahalnya harga gas. Selain itu, sulit untuk mendapatkannya khususnya di
daerah-daerah terpencil.
Seperti
di Desa Sialang Baru, Kecamatan Lubuk Dalam, Kabupaten Siak, Riau, masyarak
sangat sedikit yang menggunakan kompor gas (LPG) untuk memasak, anya berkisar
10%. Sekitar 30% menggunakan kompor dengan bahan bakar minyak tanah dikarenakan
lebih mudah untuk mendapatkannya. Selain itu arga kompor gas jauh lebih mahal
dibandingkan dengan harga kompor minyak tanah (Lisma, seorang ibu rumah tangga
sekaligus Pegawai Negeri).
Namun
ada juga masyarakat yang menggunakan kompor dengan bahan bakar minyak tanah dan
terkadang juga menggunakan kayu bakar. Mereka menggunakan kayu bakar dan berondolan. Kayu bakar yang digunakan
biasanya diambil dari hutan-hutan terdekat. Ada juga yang mneggunakan pelepah
sawit sebagai pengganti kayu dari hutan. Pelepah-pelepah tersebut digunakan
setelah dikeringkan dengan cara menjemurnya di tempat yang terkena sinar matahari
langsung. Namun, penggunaannya tidak bisa digunakan langsung sebagai bahan
bakar untuk memasak karena kayu tersebut tidak dapat menyala langsung jika
hanya menggunakan korek api. Masyarakat sekitar menggunakan berondolan sebagai bahan pembantu untuk
menyalakan kayu bakar tersebut.
Foto
buah sawit
Apa
yang dimaksud dengan berondolan?
Bagaimana menggunakan berondola? Dari
mana ditemukan berondolan? Untuk apa berondolan itu?
Begitu
mendengar kata berondolan,
pertanyaan-pertanyaan seperti itu langsung bermunculan di pikiran kita bukan?
Warga sekitar mengatakan berondolan
sebagai buah sawit yang sudah tua, yang sudah tidak melekat lagi pada
tandannya. Ciri-ciri berondolan ini
adalah warnanya sudah merah tua atau merah kehitaman. Namun berondolan ini pun tidak bisa langsung
digunakan. Untuk menggunakannya, berondolan
ini telebih dahulu dijemur di bawah terik matahari. Waktu penjemuran sangat
sulit untuk diperkirakan dikarenakan perbedaan kondisi berondolan saat jatuh dari tandannya. Biasanya hanya dengan
beberapa kali penjemuran, berondolan
tersebut sudah dapat digubakan. Ciri-ciri berondolan yang sudah dapat digunakan
dengan baik adalah warnanya sudah hitam kecokelatan. Saat ingin digunakan, berondolan tersebut terlebih dahulu ditumbuk
bagian ujung sampai memar, kemudian dibakar dengan korek api. Setelah berondolan tersebut menyala barulah
diletakkan kedalam tungku, kemudian
barulah kayu-kayu tersebut disusun sedemikian sehingga memungkinkan untuk
terjadinya pertukaran udara, karena proses pembakaran hanya akan terjadi jika
jumlah oksigennya cukup.
Secara
ekonomis, penggunaan kayu bakar dan berondolan
memang sangat menguntungkan, karena mudah didapat dan harganya tidak mahal.
Namun, ada kekurangan menggunakan kayu bakar dan berondolan ini. Dapur tempat kita memasak bisa menjadi hitam karena
proses pembakaran yang tidak sempurna yang menghasilkan asap hitam. Selain itu,
jika sedang musim pengujan, maka kayu bakar akan basah dan berondolan tidak kering, sehingga proses memasak pun akan
terbengkalai. Oleh karena itu, biasanya para ibu rumah tangga tetap menyediakan
kompor dengan bahan bakar minyak tanah di rumahnya.
Secara
kimia, pembakaran yang tidak sempurna ini sangat tidak efektif. Selain
menyebabkan dapur menjadi hitam, pembakaran yang tidak sempurna ini menimbulkan
asap yang sangat berbahaya jika terlalu sering dihisap. Hal yang ditimbulkan
adalah sesak napas, mata pedi dan jika melakukan pengecekan darah, maka darah
kita akan sangat kental dan berwarna merah kehitaman (merah tua, bukan merah).
Al ini terjadi karena kandungan gas karbon monoksida dalam asap sangat banyak.
Selain itu, pembakaran yang tidak sempurna ini juga dapat menyebabkan kerusakan
ozon.
Sampai
saat ini, memasak dengan menggunakan tungku belum mendapat tanggapan yang
serius dari kalangan pemerinta maupun para ilmuan. Sedangkan para ibu rumah
tangga asyik dengan kemurahan dan kemudahan menggunakan tungku untuk memasak
tanpa menghiraukan akibat yang ditimbulkan.
Tugas
ini dikumpulkan tertanggal 20 Maret 2009.
Saran
yang paling menggugah, “buat judul yang lebih spesifik”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar