Belakangan ini waktu berjalan terasa begitu lambat.
Tak seperti yang kukira saat aku mengemis untuk sidang dan
dinyatakan lulus.
Waktu menunggu wisuda seakan lebih lama daripada saat aku
kuliah selama ini.
Tak ada telepon.
Tak ada cerita.
Tak ada nasihat.
Tak ada aduanku.
Tak ada aku dengar berita dari seberang.
Mengapa begitu menyiksa? Mengapa begitu sakit? Bahkan aku
lebih tak tahu harus berbuat apa.
Semua seakan membuatku seperti bayi, bayi yang ingin pelukan
hangat seperti di dalam rahim.
Biasanya dengan mengerjakan sesuatu sudah membuatku lebih
baik. Tapi, saat ini tidak.
Tidak untuk hal itu.
Ada kerikil yang membuatku aeakan tak mampu melaluinya. Yia,
bukan batu besar, tapi kerikil. Batu [kerikil].
Temanku sudah memesan bahkan membeli tiket untuk semua
keluarganya agar datang memberi ‘selamat’
Aku?
Bahkan suara mereka pun sekarang aku hampir lupa? Benarkah?
Sungguh tidak. Bahkan tiap saat yang kuingat mereka.
Aku butuh mereka. aku butuh suara mereka. Aku butuh saran
mereka. aku butuh pendapat mereka. aku butuh uang mereka. aku butuh harapan
mereka. aku butuh cita-cita mereka. yia, aku butuh mereka.
Ada yang mengatakan, “semakin tua maka manusia sesungguhnya
semakin tidak ingin jauh dari orangtuanya”
Yia. Jika dulu aku pernah bermimpi untuk SMA di Pekan Baru,
aku mendapatkan lebih dari itu. Aku bisa kuliah di Bandung. Lima tahun lebih.
Dibayarin. Yiaa.. aku dapat semua.
Tapi aku mulai sadar. Bukan jauh yang kuinginkan. Bukan.
Bahkan aku ingin seperti balita yang tak malu menangis di pelukan mereka. aku
ingin itu.
Jujur, aku sangat takut. Aku takut. Aku takut.
Aku punya orang yang dekat dengan ku. Tapi mereka tak bisa
mengganti kalian. Gak bisa. Sedekat apapun itu. Sebahagia apapun aku bersama
mereka. aku ingin kalian semua.
Sekarang, pikiran kalau kalian tidak akan datang di wisudaku
seakan membunuhku perlahan seperti halnya menghirup CO. Menyesakkan. Aku ingin
tidak memikirkan itu, tapi tak bisa.
Yia, semua bertanya apa kalian datang? Kapan kalian datang?
Apa aku akan pulang bersama kalian langsung? Bla bla bla
Dan aku hanya bisa menjawab dengan senyum terpaksa
“entahlah”
Bahkan aku tidak tahu apa yang sebenarnya, apa kalian akan
datang?
Yia, pikiran itu.
Itu hanya pikiran,, dan aku tidak tahu apa kenyataanya
nanti?
Jika benar kalian tidak datang? Apa aku bisa tersenyum? Apa
aku bisa memakai togaku? Apa bisa memindahkan tali di topiku? Siapa yang
melihatku? Siapa yang mengharapkan semua itu aku lakukan? Siapa yang ingin
memotoku?
Sudah 2 minggu dari sidangku.
Ada orang yang sangat ingin kudengar suaranya. Ada ucapan
selamat yang kuharapkan, meski sekarang sudah dua minggu berlalu. aku masih
menungggu. Menunggu. Aku butuh ucapan itu.
Yia,, aku berpikir lebih cepat dan baik saat-saat ini. Aku
tidak akan marah jika kalian semua tidak datang di wisudaku, tapi aku ucapan
selamat itu. Aku ingin itu secepatnya.
Terlalu beratkah hal itu?
Mengapa karakterku begitu mirip denganmu? Dan kita pun sama,
tak ada yang ingin memulai.
Apakah dalam setiap kerjamu kau memikirkan ini seperti aku
dalam setiap waktu (tak ada yang aku kerjakan)?
Aku tidak marah dengan ucapun malam itu. Meski malam itu aku
sangat sangat berjuang, aku tidak marah. Kesalku hanya sesaat. Hanya dengan
menangis beberapa jam sudah cukup. Aku tidak marah. Dan aku berdoa, berharap,
di saat hari sidangku, aku mendapatkan ucapan semangat darimu (aku tahu, doamu
selalu tersisip untukku).
Yia, aku bukan orang dewasa yang akan berkata panjang lebar.
Aku tak suka adu mulut.
Bahkan menulis semua ini, hanya air mata yang tak mau
berhenti. Seerti hujan yang tak pernah habis hari-hari ini.
Mendungnya mengalahkan hangatnya sinar matahari, namun tetap
masih ada cahaya.
Satu hal lagi yang ingin kuungkapkan. Saat ini aku bingung
apa aku akan pulang atau tetap di tempatku ini. Dan ini pilihan yang berat
buatku.
Aku ingat, saat bimbel, ada surat dari ITS yang sampai ke
rumah. Dan itu engkau antar ke hotel (mungkin pikirmu itu sangat aku butuhkan).
Tapi saat itu mungkin aku terlalu muda untuk mengerti betapa kau sangat
menyayangi aku. Kau katakan yang terjadi, dan dengan gampangnya aku katakan,
aku tak ingin ITS. Aku ingin UPI. Semua jurusmu kau katakan. Hingga seperti
bisa, keputusan tetap ada di aku. Dan aku memtuskan UPI.
Saat itu, aku tak tahu raut apa itu. Seiring waktu berlalu,
aku tahu. Itu raut kekuatiranmu kalau aku tidak bisa kuliah. Itu raut lelahmu
menempuh perjalanan. Saat itu kau tidak mengatakannya. Dan aku tidak tahu.
Dan saat ini, bisakah kau ulang raut itu? Aku membutuhkan
itu. Mungkin kita bisa berdiskusi layaknya orang muda. Aku ingin mendengar semua
jurusmua. Dan aku akan katakan semua inginku. Hingga benar-benar kita capai
kesepakatan bersama (bukan hanya aku).
Bahkan lebih dari raut itu, aku menginginkan kau memberi
ucapan selamat atas yang sudah kucapai.
Bahkan lebih dari itu pula, aku kau hadir saat aku
benar-benar bahagia semu di desember ini.
Maaf kala itu aku belum mengerti.
Maaf kala itu aku sama sekali belum mengerti.
Maaf kala itu aku tak ucapkan terimaksih.
Yia. Aku berharap, sesuai rencana ku (aku tak sanggup
menyebutkan ini janjiku), esok berharap aku bisa mendengar suaramu. Entah siapa
di antara kita yang memulai. Aku harap ini tak akan terulang lagi.
Sebelum aku akhiri dan menutup file ini sebelum aku up-load,
perempuan yang bersamamu tak pernah mengajarkan aku (kami) membencimu. Bahkan
aku masih ingat, waktu yang tak ingin kuingat, dia selalu menyuruhku (kami)
untuk menyapamu, menjawabmu. Lebih dari itu, saat aku (kami) memberi ucapan
(salam) selamat, dia selalu mengatakan ke engkau terlebih dahulu. Dia perempuan
yang mengajarkanku berbaik hati.
Aku (kami) tak ingin engkau membenci dia. Dia sangat baik.
Tidak benar jika kami hanya menghormatinya. Meski jujur, ada rasa lebih
terhadap dia karena ketegarannya, kesetiaanya, ke-ibu-annya,semuanya. Gak ada
yang bisa mengganti pelajaran itu. Gak ada. Termasuk engkau. Karna itu lah aku
(kami) memiliki rasa yang labih terhadap dia. Tapi jangan cemburu, dia memberi
rasa yang lebih terhadap engkau. Lebih dari yang aku (kami) beri ke dia. Jadi,
sekali lagi, jangan cemburu karena kau mendapatkan rasa yang labih. Seharusnya
kau bangga memiliki dia. Dan balas rasa lebih yang dia berikan kepadamu.
Aku (kami) menyayangi kalian. Tak ada yang pertama dan ke
dua. Kalian satu maka aku (kami) menyayangi kalian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar