Meldalina
Agustina Mare-Mare
0808738
Pendidikan
Kimia B
Pendidikan
Jasmani dan Olahraga di Lembaga Pendidikan
Mengapa
Perlu Olahraga?
Gerak
adalah ciri kehidupan. Tiada hidup tanpa gerak. Apa guna hidup bila tak mampu
bergerak. Memelihara gerak adalah mempertahankan hidup, meningkatkan kemampuan
gerak adalah meningkatkan kualitas hidup. Oleh karena itu, bergeraklah untuk
lebih hidup, jangan hanya bergerak karena masih hidup.
Olahraga
adalah serangkaian gerak raga yang teratur dan terencana untuk memelihara gerak
(mempertahankan hidup) dan meningkatkan kemampuan kebutuhan idup yang sifatnya
periodik; artinya olahraga sebagai alat untuk memelihara dan membina kesehatan,
tidak dapat ditinggalkan. Olahraga merupakan alat untuk merangsang pertumbuhan
dan perkembangan jasmani, rohani dan sosial. Struktur anatomis-anthropometris
dan fungsi fisiologisnya, stabilitas emosioanal dan kecerdasan intelektualnya
maupun kemampuannya bersosialisasi dengan lingkungannya nyata lebih unggul pada
siswa-siswa yang aktif mengikkuti kegiatan Penjas-Or dari pada siswa-siswa yang
aktif mengikuti Penjas-Or (Renstrom & Roux 1988, dalam A. S. Watson:
Cildren in Sport dalam Bloomfield, J, Fricker P. A. and Fitch, K. D., 1992).
Olahraga
Kesehatan meningkatkan derajat Sehat Dinamis (Sehat dalam gerak), pasti juga
Sehat Statis (Sehat dikala diam), tetapi tidak pasti sebaliknya. Gemar
berolahraga: mencegah penyakit, hidup sehat dan nikmat! Malas berolahraga:
mengundang penyakit. Tidak berolahraga: menelantakan diri!
Kesibukan
dalam kehidupan “Duniawi” sering menyebabkan orang menjadi kurang gerak,
disertai stress yang dapat mngundang berbagai penyakit non-infeksi di antaranya
yang terpenting adalah penyakit kardio-vaskular (pnyakit jantung, tekanan sarah
tinggi dan stroke). Hal ini banyak dijumpai pada kelompok usia pertengahan, tua
dan lanjut, kususnya yang tidak melakukan olahraga. Olahraga (kesehatan):
Banyak gerak dan bebas stress, mencegah penyakit dan menyehatkan! Olahraga
adalah kebutuhan hidup bagi orang yang mau berpikir. Bukan Allah menganiaya
manusia, tetapi manusia menganiaya dirinya sendiri. Pemahaman dan perilaku ini
suda harus ditanamkan sejak usia dini, yaitu semenjak usia mereka masih di
tingkat pendidikan dasar, baik di sekolah umum maupun di pondok pesantren. Cara
penyajian penjas-or di sekolah maupun di pondok pesantren harus dapat
menjadikan siswa/santri menjadi butuh akan penjas-or khususnya demi
kesehatannya serta dukungan bagi kemampuan belajarnya, sehingga siswa/santri
akan selalu menyambut gembira setiap datang mata pelajaran penjas-or. Oleh
karena sudah menjadi kebutuhan, maka mereka akan merasa dirugikan manakala mata
pelajaran penjas-or ditiadakan seperti yang terjadi selama ini bila mereka akan
menghadapi ujian akhir. Untuk ini diperlukan guru-guru penjas-or yang paham
benar akan makna penjas-or di sekolah maupun di pondok pesantren.
Konsep olahraga kesehatan adalah: padat
gerak, bebas stress, singkat (cukup 10-30 menit tanpa henti), adekuat, massal,
mudah, meriah dan fisiologis (bermanfaat dan aman). Massal: ajang silaturahmi,
ajang pencerahan sress, ajang komunikasi sosial. Jadi olahraga kesehatan
membuat manusia menjadi sehat jasmani, roani dan sosial yaitu sehat seutuhnya
sesuai konsep sehat WHO. Adekuat artinya cukup, yaitu cukup dalam waktu (10-30
menit tanpa henti) dan cukup dalam intensitasnya. Menurut Cooper (1994),
intensitas olahraga kesehatan yang cukup yaitu apabila denyut nadi latihan
mencapai 65-80% DNM (denyut nadi maximal: 220 – umur dalam tahun).
Sehat dinamis hanya dapat diperoleh bila ada
kemauan mendinamiskan diri senidri khususnya melalui kegiatan olahraga
(kesehatan). Hukumnya adalah: siapa yang makan, diala yang kenyang! Siapa yang
mengolah-raganya, dialah yang sehat! Tidak diolah berarti
siap dibungkus! Klub Olahraga Kesehatan adalah Lembaga Pelayanan Kesehatan
(Dinamis) di lapangan. Dalam kaitan dengan ini maka setiap Lembaga Pendidikan
Umum maupun Pondok-pondok Pesantren harus juga berfungsi sebagai Lembaga
Pelayanan Kesehatan Lapangan, dalam rangka program pokok.
Contoh
olahraga kesehatan berbentuk senam yang dapat mencapai sasaran-3 (Aerobiks)
ialah senanm pagi indonesia seri D (SPI-D). Satu seri SPI-D memerlukan waktu
1’45”, sehingga untuk memenuhi kriteria waktu yang adekuat maka SPI-D harus
dilakukan minimal 6x berturut-turut tanpa henti, yang akan mencapai waktu 10.5
menit. Menurut penelitian, bila SPI-D dilakukan dengan sungguh-sungguh maka
intensitasnya dapat mencapai tingkat adekuat sesuai kriteria Cooper. SPI-D ini
macam gerak dan tata urutannya sudah berpola tetap sehingga lama kelamaan
peserta sudah hapal, maka rangsangan terhadap proses berpikir menjadi
berkurang. Oleh karena itu senam aerobik pada umumnya yang tidak berpola tetap
adalah lebih baik dalam hal rangsangannya terhadap proses berpikir.
Ciri Olahraga Kesehatan
Pesantai
adalah orang yang tidak melakukan olahraga sehingga cenderung kekurangan gerak.
Sebaliknya pelaku olahraga berat melakukan olahraga lebih dari keperluannya
untuk pemeliharaan kesehatan. Maka pelaku olahraga kesehatan adalah orang yang
tidak kekurangan gerak tetapi bukan pula pelaku olahraga berat. Olahraga yang
dianjurkan untuk keperluan kesehatan adalah aktivitas gerak raga dengan
intensitas yang setingkat di atas intensitas gerak raga yang biasa dilakukan
untuk keperluan pelaksanaan tugas kehidupan sehari-hari (Blair, 1989 dalam
Cooper, 1994). Dalam olahraga kesehatan, setiap peserta harus berusaha
mengikutinya sebaik mungkin gerak/instruksi pelatih, namun tentu harus sesuai
dengan kemampuan masing-masing.
Ciri
olahraga kesehatan secara teknis-fisiologis adalah:
ü Gerakannya
mudah, sehingga dapat diikuti oleh orang kebanyakan dan seluruh siswa/santri
pada umumnya (bersifat massal), sehingga dapat memperkaya dan meningkatkan
kemampuan dan keterampilan gerak dasar, gerak yang diperlukan untuk pelaksanaan
kegiatan hidup sehari-hari.
ü Intensitasnya
sub-maksimal dan homogen, bukan gerakan-gerakan maksimal atau gerakan eksplosif
maksimal (faktor keamanan).
ü Terdiri
dari satuan-satuan gerak yang dapat (secara sengaja) dibuat untuk menjangkau
seluruh sendi dan otot, serta dapat dirangkai untuk menjadi gerakan yang
kontinu (tanpa henti) – faktor penting untuk dapat mengatur dosis dan
intensitas olahraga kesehatan.
ü Bebas
stress (non kompetitif)
ü Diselenggarakan
3-5x/minggu (minimal 2x/minggu)
ü Dapat
mencapai intensitas antara 60-80% denyut nadi maksimal (DNM) sesuai umur. DNM
sesuai umur = 220 – umur dalam tahun. Sebaiknya tiap peserta mengetahui cara
menetapkan dan menghitung denyut nadi latihan masing-masing.
Perlu
pula dikemukakan bahwa sampai usia sekitar 14 tahun (usia pubertas) tidak perlu
ada pemisahan siswa atas dasar jenis kelamin (Watson, 1992), karena baru akan
berdampak nyata di atas usia tersebut.
Sasaran Olaraga Kesehatan
-
Sasaran-1: memelihara dan meningkatkan
kemampuan gerak yang masih ada, termasuk memelihara dan meningkatkan
fleksibilitas dan kemampuan koordinasi.
-
Sasaran-2: meningkatkan kemampuan otot
untuk meningkatkan kemampuan geraknya lebih lanjut. Latihan dilakukan dengan
menerapkan prinsip pliometrik!
-
Sasaran-3: memelihara kemampuan aerobik
yang telah memadai atau meningkatnya untuk mencapai sasaran minimal kategori
“sedang”.
Perlu
ditekankan sekali lagi bawa olahraga kesehatan adalah gerak olahraga dengan
takaran sedang, bukan olahraga berat! Jadi takarannya ibarat makan: berhentilah
makan menjelang kenyang; jangan tidak makan oleh karena bila tidak makan dapat
menjadi sakit, sebaliknya jangan pula kelebihan makan karena kelebihan makan
akan mengundang penyakit. Artinya berolahragalah secukupnya (adekuat), jangan
tidak berolahraga karena kalau tidak berolahraga mudah menjadi sakit,
sebaliknya kalau melakukan olahraga secara berlebihan dapat menyebabkan sakit.
Keterkaitan
kesehatan, pandidikan jasmani dan olahraga. Untuk lebih memudahkan baasanya
perlu lebih dahulu sikutip kembali hal-hal yang tersebut di bawah ini:
*Sehat
dan Kesehatan
-
Sehat merupakan dasar bagi segala
kemampuan jasmani, rohani maupun sosial.
-
Memelihara dan meningkatkan kesehatan:
cara yang terpenting, termurah dan fisiologis adalah melalui olahraga.
-
Acuan sehat adalah sehat paripurna dari
organisasi kesehatan dunia.
*Pendidikan
Jasmani dan Olahraga
-
Pandidikan jasmani adalah pendidikan
dengan menggunakan media kegiata jasmani.
-
Olahraga adalah pelatihan jasmani
-
Pendidikan jasmani dan olahraga adalah
pendidikan dan pelatihan jasmani, yang dalam lingkup persekolahan/pesantren
bararti pelatihan jasmani, rohani dan sosial menuju kondisi yang lebih baik
yaitu sejahtera paripurna (peningkatan mutu sumber daya manusia).
*Olahraga
Gerak:
-
Gerak adalah ciri kehidupan.
-
Memelihara gerak adalah mempertahankan
hidup.
-
Meningkatkan kemampuan gerak adalah
meningkatkan kualitas hidup.
-
Olahraga adalah serangkaian gerak raga
yang teratur dan terencana untuk meningkatkan kemampuan gerak yang berarti
meningkatkan kualitas hidup.
-
Olahraga merangsang pertumbuhan dan
perkembangan jasmani, rohani dan sosial menuju sejahtera paripurna.
-
Hanya orang yang mau
bergerak-berolahraga yang akan mendapatkan manfaat olahraga.
*Olahraga
Kesehatan:
-
Intensitasnya sedang, setingkat di atas
inrensitas aktivitas fisik dalam menjalani kehidupan sehari-hari
-
Meningkatkan derajat kesehatan dinamis –
sehat dengan kemampuan gerak yang dapat memenuhi kebutuhan gerak kehidupan
sehari-hari.
-
Bersifat padat gerak, bebas stress,
singkat (cukup 30 menit tanpa berhenti), mudah, murah, meriah massal,
fisiologis (manfaat dan aman).
Sejahtera
– massal: ajang silaturahmi rohani dan sosial
Sejahtera
rohani – ajang pencerahan stress – ajang sejahtera sosial komunikasi sosial.
*Kondisi
Pendidikan Jasmani dan Olahraga saat ini
-
Waktu yang tersedia = 2 x 45 menit/minggu
-
Sarana – prasarana sangat terbatas
Kurikulum
penjas-Or lebih berorientasi kepada olahraga kecabangan:
1. Cenderung
individual dan cenderung mengacu pencapaian prestasi
2. Olahraga
prestasi mahal dalam hal:
Ø Sarana
– prasarana
Ø Waktu,
perlu masa pelatihan yang panjang
Ø Tenaga
dan biaya.
Kesimpulan
Pendidikan
jasmani dan olahraga di lembaga pendidikan harus ditekankan pada olahraga
kesehatan dan latihan jasmani untuk meningkatkan derajat sehat dinamis dan
kemampuan motorik dan koordinasi yang labih baik, agar para siswa selama masa
belajar memiliki kualitas idup yang lebih baik, serta dapat siharapkan menjadi
atlet berprsetasi dan sumber daya manusia yang bermutu di masa depan.
Saran
1. Reorientasi
penjas-or sebagai program kurikuler perlu ditinjau kembali kaitannya dengan:
-
Relevansinya dengan
kebutuhansiswa/santri
-
Manfaat yang diharapkan
-
Kondisi nyata persekolahan:
Ø Jatah
waktu / jam pelajaran per minggu
Ø Sarana
– prasarana yang tersedia
2. Reposisi
penjas-or perlu dikembalikan pada posisi dasar fungsinya yaitu:
-
Penggunaan olahraga/kegiatan jasmani
sebagai media pendidikan
-
Penggunaan olahraga sebagai alat
pelatihan untuk memelihara dan meningkatkan derajat sehat dinamis menuju
kondisi sejahtera paripurna sesuai konsep sehar WHO.
3. Revitalisasi
dan reaktualisasi penjas-or di sekolah dan pondok pesantren dengan orientasi
dan posisinya yang baru perlu digalakkan kembali (revitalisasi) dengan
menekankan konsep olahraga kesehatan (reaktualisasi) sebagai pokok bahasan dan
penyajiannya. Oleh karena durasi pelaksanaan olahraga kesehatan cukup 10-30
menit, maka jatah pertemuan 2 x 45 menit/minggu, dapat disajikan sebagai materi
untuk 2 x pertemuan/minggu @ 30 menit, sehingga memenuhi persyaratan minimal
olahraga kesehatan.
4. Kualitas
petugas keberhasilan misi di tingkat lapangan sangat ditentukan oleh kualitas
petugas serta pemahamannya mengenai makna penjas-or bagi lembaga pendidikan
serta ketulusan dan kesungguhan dalam pengabsiannya.
5. Kebutuhan
penjas-or di sekolah dan pondok pesantren harus dirasakan sebagai kebutuhan
oleh siswa/santri, sehingga mereka akan merasa dirugikan manakala mata
pelajaran penjas-or ditiadakan.
6. Olahraga
prestasi olahraga kecabangan yang bersifat prestatif perlu pula dikembangkan
namun sebaiknya ditempatkan sebagai materi ekstrakurikuler, sebagai tempar
penyaluran bakat dan minat siswa/santri.