Jumat, 19 April 2013

dia, dia, dan dia


Bersyukur pernah mengetahui dirimu
Dirimu ada

Aku belajar untuk tidak memilikimu
Tapi tanpa kusadari dirimu tinggal di bagian hidupku
Aku berusaha untuk membuangmu
Namun sisa dayaku tak mampu

Kuputuskan untuk membiarkan semuanya
Dan kau tahu? Aku membiarkan hatiku
Bahkan dia, dia, dan dia tak mampu melirik hatiku ‘meski kutahu dia berusaha sekuat dayanya’

Pernah menyesal mengakui aku suka ‘bahkan jatuh cinta ‘ padamu
Kata orang jatuh cinta itu luar biasa indah
Memang
Bahkan sangat indah
Dan saat ini aku sependapat dengan stand up comedy
‘jatuh cinta itu sakit, cinta akan sakit ketika dia jatuh’
Aku sangat sakit karna jatuh cinta padamu
Aku belum bisa mengangkat cinta itu

Dia, dia, dan dia bersama-sama dengan aku berusaha mengangkatnya
Semua sia-sia (maybe)
Dan hasilnya, sampai saat ini masih dirimu
Entah itu sampai kapan
Entah itu akan berakhir
Atau entah itu akan disambut olehmu

Tulisan ini berawal karna tidak ada acara yang menarik
Yia, memang dirimu
Sedikit mengenal mu menyenangkan
Thank God

13 April 2013 22.36

Kamis, 04 April 2013

Tugas Bahasa Inggris


                                                                        Nama : Meldalina Agustina Mare-Mare
                                                                        NIM : 0808738

Interesting Place For Me
At June, 2006 me and my friends went retreat. We visited Salib Kasih in Tarutung, and The Tourism Faith Park in Sidikalang. Tis two place very interested for me because have one of different with the other place and I visited it for to the first time.
Salib Kasih was place interest, beautiful, and impressive for me. It was built in ill. If theren’t fog in the night, the lamps would shine in Salib Kasih. Air circulation in Salib Kasih very natural and fresh.
The Tourism Faith Park is a beautiful resort, the arsitectur created or built place had aimed, namely: to combine all the regions in our country, such as Cristiant, Muslim, Hindu, Budha, and Katholik. This place was hold in a hill, why hold in a hill? Because from many place we can see this park, we can feel comfort and freshness, from the road we in to te park, we can feel comfort and freshness. From the road we in to the park, we walk inside and for the first built we can find a Wihara and ten countinue te next place for praying.
According me, this place is so interesting and also can increase our knowledge and it means if we can feel comfortable in this place, so we had understood about God creation for us, who are so beautiful.

**Yang aku ingat ini adala tugas kulah bahasa inggris. File-nya hilang di laptop yang rusak dulu J

Tugas Penjas


Meldalina Agustina Mare-Mare
0808738
Pendidikan Kimia B
Pendidikan Jasmani dan Olahraga di Lembaga Pendidikan


Mengapa Perlu Olahraga?
Gerak adalah ciri kehidupan. Tiada hidup tanpa gerak. Apa guna hidup bila tak mampu bergerak. Memelihara gerak adalah mempertahankan hidup, meningkatkan kemampuan gerak adalah meningkatkan kualitas hidup. Oleh karena itu, bergeraklah untuk lebih hidup, jangan hanya bergerak karena masih hidup.
Olahraga adalah serangkaian gerak raga yang teratur dan terencana untuk memelihara gerak (mempertahankan hidup) dan meningkatkan kemampuan kebutuhan idup yang sifatnya periodik; artinya olahraga sebagai alat untuk memelihara dan membina kesehatan, tidak dapat ditinggalkan. Olahraga merupakan alat untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan jasmani, rohani dan sosial. Struktur anatomis-anthropometris dan fungsi fisiologisnya, stabilitas emosioanal dan kecerdasan intelektualnya maupun kemampuannya bersosialisasi dengan lingkungannya nyata lebih unggul pada siswa-siswa yang aktif mengikkuti kegiatan Penjas-Or dari pada siswa-siswa yang aktif mengikuti Penjas-Or (Renstrom & Roux 1988, dalam A. S. Watson: Cildren in Sport dalam Bloomfield, J, Fricker P. A. and Fitch, K. D., 1992).
Olahraga Kesehatan meningkatkan derajat Sehat Dinamis (Sehat dalam gerak), pasti juga Sehat Statis (Sehat dikala diam), tetapi tidak pasti sebaliknya. Gemar berolahraga: mencegah penyakit, hidup sehat dan nikmat! Malas berolahraga: mengundang penyakit. Tidak berolahraga: menelantakan diri!
Kesibukan dalam kehidupan “Duniawi” sering menyebabkan orang menjadi kurang gerak, disertai stress yang dapat mngundang berbagai penyakit non-infeksi di antaranya yang terpenting adalah penyakit kardio-vaskular (pnyakit jantung, tekanan sarah tinggi dan stroke). Hal ini banyak dijumpai pada kelompok usia pertengahan, tua dan lanjut, kususnya yang tidak melakukan olahraga. Olahraga (kesehatan): Banyak gerak dan bebas stress, mencegah penyakit dan menyehatkan! Olahraga adalah kebutuhan hidup bagi orang yang mau berpikir. Bukan Allah menganiaya manusia, tetapi manusia menganiaya dirinya sendiri. Pemahaman dan perilaku ini suda harus ditanamkan sejak usia dini, yaitu semenjak usia mereka masih di tingkat pendidikan dasar, baik di sekolah umum maupun di pondok pesantren. Cara penyajian penjas-or di sekolah maupun di pondok pesantren harus dapat menjadikan siswa/santri menjadi butuh akan penjas-or khususnya demi kesehatannya serta dukungan bagi kemampuan belajarnya, sehingga siswa/santri akan selalu menyambut gembira setiap datang mata pelajaran penjas-or. Oleh karena sudah menjadi kebutuhan, maka mereka akan merasa dirugikan manakala mata pelajaran penjas-or ditiadakan seperti yang terjadi selama ini bila mereka akan menghadapi ujian akhir. Untuk ini diperlukan guru-guru penjas-or yang paham benar akan makna penjas-or di sekolah maupun di pondok pesantren.
Konsep olahraga kesehatan adalah: padat gerak, bebas stress, singkat (cukup 10-30 menit tanpa henti), adekuat, massal, mudah, meriah dan fisiologis (bermanfaat dan aman). Massal: ajang silaturahmi, ajang pencerahan sress, ajang komunikasi sosial. Jadi olahraga kesehatan membuat manusia menjadi sehat jasmani, roani dan sosial yaitu sehat seutuhnya sesuai konsep sehat WHO. Adekuat artinya cukup, yaitu cukup dalam waktu (10-30 menit tanpa henti) dan cukup dalam intensitasnya. Menurut Cooper (1994), intensitas olahraga kesehatan yang cukup yaitu apabila denyut nadi latihan mencapai 65-80% DNM (denyut nadi maximal: 220 – umur dalam tahun).
Sehat dinamis hanya dapat diperoleh bila ada kemauan mendinamiskan diri senidri khususnya melalui kegiatan olahraga (kesehatan). Hukumnya adalah: siapa yang makan, diala yang kenyang! Siapa yang mengolah-raganya, dialah yang sehat! Tidak diolah berarti siap dibungkus! Klub Olahraga Kesehatan adalah Lembaga Pelayanan Kesehatan (Dinamis) di lapangan. Dalam kaitan dengan ini maka setiap Lembaga Pendidikan Umum maupun Pondok-pondok Pesantren harus juga berfungsi sebagai Lembaga Pelayanan Kesehatan Lapangan, dalam rangka program pokok.
Contoh olahraga kesehatan berbentuk senam yang dapat mencapai sasaran-3 (Aerobiks) ialah senanm pagi indonesia seri D (SPI-D). Satu seri SPI-D memerlukan waktu 1’45”, sehingga untuk memenuhi kriteria waktu yang adekuat maka SPI-D harus dilakukan minimal 6x berturut-turut tanpa henti, yang akan mencapai waktu 10.5 menit. Menurut penelitian, bila SPI-D dilakukan dengan sungguh-sungguh maka intensitasnya dapat mencapai tingkat adekuat sesuai kriteria Cooper. SPI-D ini macam gerak dan tata urutannya sudah berpola tetap sehingga lama kelamaan peserta sudah hapal, maka rangsangan terhadap proses berpikir menjadi berkurang. Oleh karena itu senam aerobik pada umumnya yang tidak berpola tetap adalah lebih baik dalam hal rangsangannya terhadap proses berpikir.

Ciri Olahraga Kesehatan
Pesantai adalah orang yang tidak melakukan olahraga sehingga cenderung kekurangan gerak. Sebaliknya pelaku olahraga berat melakukan olahraga lebih dari keperluannya untuk pemeliharaan kesehatan. Maka pelaku olahraga kesehatan adalah orang yang tidak kekurangan gerak tetapi bukan pula pelaku olahraga berat. Olahraga yang dianjurkan untuk keperluan kesehatan adalah aktivitas gerak raga dengan intensitas yang setingkat di atas intensitas gerak raga yang biasa dilakukan untuk keperluan pelaksanaan tugas kehidupan sehari-hari (Blair, 1989 dalam Cooper, 1994). Dalam olahraga kesehatan, setiap peserta harus berusaha mengikutinya sebaik mungkin gerak/instruksi pelatih, namun tentu harus sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Ciri olahraga kesehatan secara teknis-fisiologis adalah:
ü  Gerakannya mudah, sehingga dapat diikuti oleh orang kebanyakan dan seluruh siswa/santri pada umumnya (bersifat massal), sehingga dapat memperkaya dan meningkatkan kemampuan dan keterampilan gerak dasar, gerak yang diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan hidup sehari-hari.
ü  Intensitasnya sub-maksimal dan homogen, bukan gerakan-gerakan maksimal atau gerakan eksplosif maksimal (faktor keamanan).
ü  Terdiri dari satuan-satuan gerak yang dapat (secara sengaja) dibuat untuk menjangkau seluruh sendi dan otot, serta dapat dirangkai untuk menjadi gerakan yang kontinu (tanpa henti) – faktor penting untuk dapat mengatur dosis dan intensitas olahraga kesehatan.
ü  Bebas stress (non kompetitif)
ü  Diselenggarakan 3-5x/minggu (minimal 2x/minggu)
ü  Dapat mencapai intensitas antara 60-80% denyut nadi maksimal (DNM) sesuai umur. DNM sesuai umur = 220 – umur dalam tahun. Sebaiknya tiap peserta mengetahui cara menetapkan dan menghitung denyut nadi latihan masing-masing.
Perlu pula dikemukakan bahwa sampai usia sekitar 14 tahun (usia pubertas) tidak perlu ada pemisahan siswa atas dasar jenis kelamin (Watson, 1992), karena baru akan berdampak nyata di atas usia tersebut.

Sasaran Olaraga Kesehatan
-        Sasaran-1: memelihara dan meningkatkan kemampuan gerak yang masih ada, termasuk memelihara dan meningkatkan fleksibilitas dan kemampuan koordinasi.
-        Sasaran-2: meningkatkan kemampuan otot untuk meningkatkan kemampuan geraknya lebih lanjut. Latihan dilakukan dengan menerapkan prinsip pliometrik!
-        Sasaran-3: memelihara kemampuan aerobik yang telah memadai atau meningkatnya untuk mencapai sasaran minimal kategori “sedang”.
Perlu ditekankan sekali lagi bawa olahraga kesehatan adalah gerak olahraga dengan takaran sedang, bukan olahraga berat! Jadi takarannya ibarat makan: berhentilah makan menjelang kenyang; jangan tidak makan oleh karena bila tidak makan dapat menjadi sakit, sebaliknya jangan pula kelebihan makan karena kelebihan makan akan mengundang penyakit. Artinya berolahragalah secukupnya (adekuat), jangan tidak berolahraga karena kalau tidak berolahraga mudah menjadi sakit, sebaliknya kalau melakukan olahraga secara berlebihan dapat menyebabkan sakit.
Keterkaitan kesehatan, pandidikan jasmani dan olahraga. Untuk lebih memudahkan baasanya perlu lebih dahulu sikutip kembali hal-hal yang tersebut di bawah ini:
*Sehat dan Kesehatan
-        Sehat merupakan dasar bagi segala kemampuan jasmani, rohani maupun sosial.
-        Memelihara dan meningkatkan kesehatan: cara yang terpenting, termurah dan fisiologis adalah melalui olahraga.
-        Acuan sehat adalah sehat paripurna dari organisasi kesehatan dunia.

*Pendidikan Jasmani dan Olahraga
-        Pandidikan jasmani adalah pendidikan dengan menggunakan media kegiata jasmani.
-        Olahraga adalah pelatihan jasmani
-        Pendidikan jasmani dan olahraga adalah pendidikan dan pelatihan jasmani, yang dalam lingkup persekolahan/pesantren bararti pelatihan jasmani, rohani dan sosial menuju kondisi yang lebih baik yaitu sejahtera paripurna (peningkatan mutu sumber daya manusia).

*Olahraga Gerak:
-        Gerak adalah ciri kehidupan.
-        Memelihara gerak adalah mempertahankan hidup.
-        Meningkatkan kemampuan gerak adalah meningkatkan kualitas hidup.
-        Olahraga adalah serangkaian gerak raga yang teratur dan terencana untuk meningkatkan kemampuan gerak yang berarti meningkatkan kualitas hidup.
-        Olahraga merangsang pertumbuhan dan perkembangan jasmani, rohani dan sosial menuju sejahtera paripurna.
-        Hanya orang yang mau bergerak-berolahraga yang akan mendapatkan manfaat olahraga.

*Olahraga Kesehatan:
-        Intensitasnya sedang, setingkat di atas inrensitas aktivitas fisik dalam menjalani kehidupan sehari-hari
-        Meningkatkan derajat kesehatan dinamis – sehat dengan kemampuan gerak yang dapat memenuhi kebutuhan gerak kehidupan sehari-hari.
-        Bersifat padat gerak, bebas stress, singkat (cukup 30 menit tanpa berhenti), mudah, murah, meriah massal, fisiologis (manfaat dan aman).
Sejahtera – massal: ajang silaturahmi rohani dan sosial
Sejahtera rohani – ajang pencerahan stress – ajang sejahtera sosial komunikasi sosial.

*Kondisi Pendidikan Jasmani dan Olahraga saat ini
-        Waktu yang tersedia = 2 x 45 menit/minggu
-        Sarana – prasarana sangat terbatas
Kurikulum penjas-Or lebih berorientasi kepada olahraga kecabangan:
1.      Cenderung individual dan cenderung mengacu pencapaian prestasi
2.      Olahraga prestasi mahal dalam hal:
Ø  Sarana – prasarana
Ø  Waktu, perlu masa pelatihan yang panjang
Ø  Tenaga dan biaya.

Kesimpulan
Pendidikan jasmani dan olahraga di lembaga pendidikan harus ditekankan pada olahraga kesehatan dan latihan jasmani untuk meningkatkan derajat sehat dinamis dan kemampuan motorik dan koordinasi yang labih baik, agar para siswa selama masa belajar memiliki kualitas idup yang lebih baik, serta dapat siharapkan menjadi atlet berprsetasi dan sumber daya manusia yang bermutu di masa depan.

Saran
1.      Reorientasi penjas-or sebagai program kurikuler perlu ditinjau kembali kaitannya dengan:
-        Relevansinya dengan kebutuhansiswa/santri
-        Manfaat yang diharapkan
-        Kondisi nyata persekolahan:
Ø  Jatah waktu / jam pelajaran per minggu
Ø  Sarana – prasarana yang tersedia
2.      Reposisi penjas-or perlu dikembalikan pada posisi dasar fungsinya yaitu:
-        Penggunaan olahraga/kegiatan jasmani sebagai media pendidikan
-        Penggunaan olahraga sebagai alat pelatihan untuk memelihara dan meningkatkan derajat sehat dinamis menuju kondisi sejahtera paripurna sesuai konsep sehar WHO.
3.      Revitalisasi dan reaktualisasi penjas-or di sekolah dan pondok pesantren dengan orientasi dan posisinya yang baru perlu digalakkan kembali (revitalisasi) dengan menekankan konsep olahraga kesehatan (reaktualisasi) sebagai pokok bahasan dan penyajiannya. Oleh karena durasi pelaksanaan olahraga kesehatan cukup 10-30 menit, maka jatah pertemuan 2 x 45 menit/minggu, dapat disajikan sebagai materi untuk 2 x pertemuan/minggu @ 30 menit, sehingga memenuhi persyaratan minimal olahraga kesehatan.
4.      Kualitas petugas keberhasilan misi di tingkat lapangan sangat ditentukan oleh kualitas petugas serta pemahamannya mengenai makna penjas-or bagi lembaga pendidikan serta ketulusan dan kesungguhan dalam pengabsiannya.
5.      Kebutuhan penjas-or di sekolah dan pondok pesantren harus dirasakan sebagai kebutuhan oleh siswa/santri, sehingga mereka akan merasa dirugikan manakala mata pelajaran penjas-or ditiadakan.
6.      Olahraga prestasi olahraga kecabangan yang bersifat prestatif perlu pula dikembangkan namun sebaiknya ditempatkan sebagai materi ekstrakurikuler, sebagai tempar penyaluran bakat dan minat siswa/santri.

Tugas Bahasa Indonesia 'waktu kuliah'


Revisian
BERONDOLAN
DISUSUN UNTUK MEMENUI TUGAS MATA KULIAH BAHASA INDONESIA





DISUSUN OLEH:
MELDALINA AGUSTINA MARE-MARE
0808738
PENDIDIKAN KIMIA B 2008





UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA Dan ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA
BANDUNG
2009



BERONDOLAN

Akhir-akhir ini, pemerintah sedang menggalakkan pengalihan bahan bakar minyak tanah (kerosin) ke gas (LPG). Namun penggalakkan ini kurang begitu terlaksana kususnya bagi masyarakat menengah ke bawah.
Mengapa bagi masyarakat menengah kebawah? Jawabannya suda tidak asing lagi, yaitu mahalnya harga gas. Selain itu, sulit untuk mendapatkannya khususnya di daerah-daerah terpencil.
Seperti di Desa Sialang Baru, Kecamatan Lubuk Dalam, Kabupaten Siak, Riau, masyarak sangat sedikit yang menggunakan kompor gas (LPG) untuk memasak, anya berkisar 10%. Sekitar 30% menggunakan kompor dengan bahan bakar minyak tanah dikarenakan lebih mudah untuk mendapatkannya. Selain itu arga kompor gas jauh lebih mahal dibandingkan dengan harga kompor minyak tanah (Lisma, seorang ibu rumah tangga sekaligus Pegawai Negeri).
Namun ada juga masyarakat yang menggunakan kompor dengan bahan bakar minyak tanah dan terkadang juga menggunakan kayu bakar. Mereka menggunakan kayu bakar dan berondolan. Kayu bakar yang digunakan biasanya diambil dari hutan-hutan terdekat. Ada juga yang mneggunakan pelepah sawit sebagai pengganti kayu dari hutan. Pelepah-pelepah tersebut digunakan setelah dikeringkan dengan cara menjemurnya di tempat yang terkena sinar matahari langsung. Namun, penggunaannya tidak bisa digunakan langsung sebagai bahan bakar untuk memasak karena kayu tersebut tidak dapat menyala langsung jika hanya menggunakan korek api. Masyarakat sekitar menggunakan berondolan sebagai bahan pembantu untuk menyalakan kayu bakar tersebut.
Foto buah sawit
Apa yang dimaksud dengan berondolan? Bagaimana menggunakan berondola? Dari mana ditemukan berondolan? Untuk apa berondolan itu?

Begitu mendengar kata berondolan, pertanyaan-pertanyaan seperti itu langsung bermunculan di pikiran kita bukan? Warga sekitar mengatakan berondolan sebagai buah sawit yang sudah tua, yang sudah tidak melekat lagi pada tandannya. Ciri-ciri berondolan ini adalah warnanya sudah merah tua atau merah kehitaman. Namun berondolan ini pun tidak bisa langsung digunakan. Untuk menggunakannya, berondolan ini telebih dahulu dijemur di bawah terik matahari. Waktu penjemuran sangat sulit untuk diperkirakan dikarenakan perbedaan kondisi berondolan saat jatuh dari tandannya. Biasanya hanya dengan beberapa kali penjemuran, berondolan tersebut sudah dapat digubakan. Ciri-ciri berondolan yang sudah dapat digunakan dengan baik adalah warnanya sudah hitam kecokelatan. Saat ingin digunakan, berondolan tersebut terlebih dahulu ditumbuk bagian ujung sampai memar, kemudian dibakar dengan korek api. Setelah berondolan tersebut menyala barulah diletakkan  kedalam tungku, kemudian barulah kayu-kayu tersebut disusun sedemikian sehingga memungkinkan untuk terjadinya pertukaran udara, karena proses pembakaran hanya akan terjadi jika jumlah oksigennya cukup.
Secara ekonomis, penggunaan kayu bakar dan berondolan memang sangat menguntungkan, karena mudah didapat dan harganya tidak mahal. Namun, ada kekurangan menggunakan kayu bakar dan berondolan ini. Dapur tempat kita memasak bisa menjadi hitam karena proses pembakaran yang tidak sempurna yang menghasilkan asap hitam. Selain itu, jika sedang musim pengujan, maka kayu bakar akan basah dan berondolan tidak kering, sehingga proses memasak pun akan terbengkalai. Oleh karena itu, biasanya para ibu rumah tangga tetap menyediakan kompor dengan bahan bakar minyak tanah di rumahnya.
Secara kimia, pembakaran yang tidak sempurna ini sangat tidak efektif. Selain menyebabkan dapur menjadi hitam, pembakaran yang tidak sempurna ini menimbulkan asap yang sangat berbahaya jika terlalu sering dihisap. Hal yang ditimbulkan adalah sesak napas, mata pedi dan jika melakukan pengecekan darah, maka darah kita akan sangat kental dan berwarna merah kehitaman (merah tua, bukan merah). Al ini terjadi karena kandungan gas karbon monoksida dalam asap sangat banyak. Selain itu, pembakaran yang tidak sempurna ini juga dapat menyebabkan kerusakan ozon.
Sampai saat ini, memasak dengan menggunakan tungku belum mendapat tanggapan yang serius dari kalangan pemerinta maupun para ilmuan. Sedangkan para ibu rumah tangga asyik dengan kemurahan dan kemudahan menggunakan tungku untuk memasak tanpa menghiraukan akibat yang ditimbulkan.

Tugas ini dikumpulkan tertanggal 20 Maret 2009.
Saran yang paling menggugah, “buat judul yang lebih spesifik”

Tugas Bahasa Indonesia 'waktu kuliah'


Awal 
BERONDOLAN
DISUSUN UNTUK MEMENUI TUGAS MATA KULIAH BAHASA INDONESIA





DISUSUN OLEH:
MELDALINA AGUSTINA MARE-MARE
0808738
PENDIDIKAN KIMIA B 2008





UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA Dan ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA
BANDUNG
2009




BERONDOLAN

Akhir-akhir ini Pemerintah sedang menggalakkan pengalihan bahan bakar minyak tanah (kerosin) ke gas (LPG). Namun penggalakkan ini kurang  begitu terlaksana kususnya bagi masyarakat menengah kebawah.
Mengapa bagi masyarakat menengah kebawah? Jawabannya suda tidak asing lagi, yaitu mahalnya harga gas. Selain itu, sulit untuk mendapatkannya khususnya di daerah-daerah terpencil.
Seperti di Desa Sialang Baru, Kecamatan Lubuk Dalam, Kabupaten Siak, Riau, masyarak sangat sedikit yang menggunakan kompor gas (LPG) untuk memasak, anya berkisar 10%. Sekitar 30% menggunakan kompor dengan bahan bakar minyak tanah dikarenakan lebih mudah untuk mendapatkannya. Selain itu arga kompor gas jauh lebih mahal dibandingkan dengan harga kompor minyak tanah (Lisma, seorang ibu rumah tangga sekaligus Pegawai Negeri.
Namun ada juga masyarakat yang menggunakan kompor dengan bahan bakar minyak tanah dan terkadang juga menggunakan kayu bakar. Mereka menggunakan kayu bakar dan berondolan. Kayu bakar yang digunakan biasanya diambil dari hutan-hutan terdekat. Ada juga yang mneggunakan pelepah sawit sebagai pengganti kayu dari hutan. Pelepah-pelepah tersebut digunakan setelah dikeringkan dengan cara menjemurnya di tempat yang terkena sinar matahari langsung. Namun penggunaannya tidak bisa digunakan langsung sebagai bahan bakar untuk memasak karena kayu tersebut tidak dapat menyala langsung jika hanya menggunakan korek api. Masyarakat sekitar menggunakan berondolan sebagai bahan pembantu untuk menyalakan kayu bakar tersebut.
Foto buah sawit
Apa yang dimaksud dengan berondolan? Bagaimana menggunakan berondola? Dari mana ditemukan berondolan? Untuk apa berondolan itu?
Begitu mendengar kata berondolan, pertanyaan-pertanyaan seperti itu langsung bermunculan di pikiran kita bukan? Warga sekitar mengatakan berondolan sebagai buah sawit yang sudah tua, yang sudah tidak melekat lagi pada tandannya. Ciri-ciri berondolan ini adalah warnanya sudah merah tua atau merah kehitaman. Namun berondolan ini pun tidak bisa langsung digunakan. Untuk menggunakannya, berondolan ini telebih dahulu dijemur di bawah terik matahari. Waktu penjemuran sangat sulit untuk diperkirakan dikarenakan perbedaan kondisi berondolan saat jatuh dari tandannya. Biasanya hanya dengan beberapa kali penjemuran, berondolan tersebut sudah dapat digubakan. Ciri-ciri berondolan yang sudah dapat digunakan dengan baik adalah warnanya sudah hitam kecokelatan. Saat ingin digunakan, berondolan tersebut terlebih dahulu di tumbuk bagian ujung sampai memar, kemudian dibakar dengan korek api. Setelah berondolan tersebut menyala barulah diletakkan  kedalam tungku, kemudian barulah kayu-kayu tersebut disusun sedemikian sehingga memungkinkan untuk terjadinya pertukaran udara, karena proses pembakaran hanya akan terjadi jika jumlah oksigennya cukup.
Secara ekonomis, penggunaan kayu bakar dan berondolan memang sangat menguntungkan. Mudah didapat dan harganya tidak mahal. Namun ada kekurangan menggunakan kayu bakar dan berondolan ini, dapur tempat kita memasak bisa menjadi hitam karena proses pembakaran yang tidak sempurna yang menghasilkan asap hitam. Selain itu, jika sedang musim pengujan, maka kayu bakar akan basah dan berondolan tidak kering, sehingga proses memasak pun akan terbengkalai. Oleh karena itu, biasanya para ibu rumah tangga tetap menyediakan kompor dengan bahan bakar minyak tanah di rumahnya.
Secara kimia, pembakaran yang tidak sempurna ini sangat tidak efektif. Selain menyebabkan dapur menjadi hitam, pembakaran yang tidak sempurna ini menimbulkan asap yang sangat berbahaya jika terlalu sering dihisap. Hal yang ditimbulkan adalah sesak napas, mata pedi dan jika melakukan pengecekan darah, maka darah kita akan sangat kental dan berwarna merah kehitaman (merah tua, bukan merah). Al ini terjadi karena kandungan gas karbon monoksida dalam asap sangat banyak. Selain itu, pembakaran yang tidak sempurna ini juga dapat menyebabkan kerusakan ozon.
Sampai saat ini, memasak dengan menggunakan tungku belum mendapat tanggapan yang serius dari kalangan pemerinta maupun para ilmuan. Sedangkan para ibu rumah tangga asyik dengan kemurahan dan kemudahan menggunakan tungku untuk memasak tanpa menghiraukan akibat yang ditimbulkan.