Rabu, 12 Juni 2013

emeL-emeL Si Gadis BROKOLI

Berawal ketika semasa SMA, pelajaran bahasa indonesia mengenai artikel yang intinya ngebahas tentang brokoli (lupa judul artikelnya apa). Saat itu, penasaran banget ama yang namanya brokoli itu kaya gimana (di tempat saya tinggal tidak terdapat penjual brokoli). Di dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa brokoli dapat mengobati, mencegah kanker (yang sudah besar bisa mengecil ukurannya). Tapi bukan manfaatnya yang membuat saya paling penasaran melainkan bentuknya. Digambarkan dia itu seperti bunga kol tetapi berwarna hijau, bau yang khas (sebagian orang mengatakan baunya sangat tidak enak), dan harganya yang mahal jauh melebihi harga bunga kol. Saya sampai bertanya pada penjual sayuran di pasar, namun satu pun dari mereka tidak ada yang menjual dia. Ada ibu-ibu yang tahu, namun kata beliau itu adanya di berastagih, di gunung, di tempat dingin. Alhasil, sampai saya selesai SMA, saya belum pernah berjumpa dengan dia.
Tak disangka kalau akhirnya saya bisa melanjutkan pendidikan di PTN UPI Bandung, program study pendidikan kimia. Dan secara tidak direncanakan, saya makan di warteg (dekat dengan gank ke gedung kuliah saya). Kalian tahu? Di warteg tersebut ada sayu dicampur dengan bihun putih, sangat menarik, warna sayur tersebut hijau segar, bihunnya berwarna putih yang dilumuri dengan tumisan yang sedikit kekuningan, ada irisan cabai merah dan bawang goreng yang baru ditaburkan di atasnya. Saya langsung memilih menu tersebut. Ketika saya memakannya, saya belum tahu nama sayur tersebut.
Alhasil, seiring seringnya saya makan di warteg tersebut, si mba (panggilan penjualnya yang mungkin hanya beberapa tahun lebih tua dari saya) kenal dengan saya. Karna saya sudah merasa dekat, saya pun bertanya mengenai sayur tersebut (menu tetap di warteg tersebut pada waktu antara pukul 09.30an hingga 12an). Mba tersebut mengatakan bahwa sayur tersebut bernama BROKOLI. Spontan saya mengulang “brokoli?” “yia” kata Mba tersebut. Dalam hati saya senang karna akhirnya saya bisa mengenalnya bahkan sampai mencicipinya.
Tahun bertambah. Dan saat itu sangat bumming mengenai kanker payudara. Saya pun sempat parno. Saya search mengenai gejala-gejala pengidap kanker payudara tersebut. Saya melakukan pendeteksian dini sendiri dan meyakini bahwa saya tidak mengidapnya. Sampai suatu saat (kalau tidak salah ingat, saat itu tahun 2010) di daerah dada saya ada benjolan kecil. Saya resah dan memilih memeriksakannya ke dokter di poliklinik kampus, dokter tersebut memastikan bahwa saya tidak mengidap kanker payudara, itu hanya koloidal. Dokter tersebut pun memberikan resep salep yang saya beli di apotik (obat tersebut tidak ada di poliklinik kampus). Saat saya ke apotik, teteh penjual memberikan salepnya (harganya Rp.110.000). Saya rutin menggunakannya sesuai anjuran dokter. Tapi tidak ada perubahan apapun. Malah yang dulunya tidak tersa nyeri, sekarang mulai terasa nyeri. Saya pun tidak melanjutkan menggunakan salep tersebut.
Sekarang, tahun 2013, saya merasa benjolan tersebut lebih besar dari awalnya. Saya tetap kuatir kalo itu adalah kanker. Saya searching untuk menghentikan pertumbuhannya. Saya pun menyadari yang dapat mengurangi pertumbuhan (bahkan bisa sampai sembuh total) adalah makanan yang mengandung antioksidan (anti radikal bebas). Banyak jenis sumber makanan yang dianjurkan(bisa search sendiri). Pilihan saya pun jatuh pada jenis yang pernah membuat saya penasaran setengah mati, yang baru saya jumpai di kota bandung ini, BROKOLI namanya.
Pendek cerita, saya akhirnya punya blender. Kali pertama, saya merebus brokoli tersebut kemudian saya makan. Selanjutnya saya rebus dan saya blender. Kemudian saya jenuh kalau harus merebus terlabih dahulu (butuh waktu yang lama karna saya merebusnya menggunakan ricecooker; anak kosan :P). Akhirnya saya searching lagi, ternyata dia boleh tanpa direbus langsung dikonsumsi dan itu membuat kandungan(apa pun yang dikandungnya,,hhee) tidak berkurang dan manfaatnya lebih baik daripada dimasak). Keputusan saya buat, saya jus dia, saya saring, dan yang saya ambil hanyalah sarinya. Baunya yang khas sempat membuat saya tidak ingin melanjutkan, tapi kembali lagi saya ingat tujuan saya mengkonsumsinya. Satu yang membuat saya sangat mengagumi hasil jus-an saya, warnanya yang hijau segar serasa membuat mata saya dingin dan percaya kalau itu adalah obat mujarab. Saya minum (dengan menutup hidung). Awalnya terasa berat. Beberapa teman mencemooh saya. Saya tetap mengkonsumsinya. Setiap ke pasar, selalu menjadi bahan andalan yang tak terlupakan. Saya sempat berpikir untuk mengkonsumsi dia minimal selama tiga hari dalam seminggu. Dan sampai sekarang (12 June), saya masih mengkonsumsi jusnya. Sekali ngejus, saya bisa minum 2-3 gelas jus brokoli dalam sehari. Dan serasa menjadi kebiasaan, lewat dari dua hari saya tidak minum jus brokoli, saya kerasa kecarian.
Trik yang saya gunakan, sekali belanja ke pasar, saya beli brokoli minimal setengah kilo gram, jadi bisa untuk tiga kali (atau empat kali) ngejus. Itu artinya, dalam 7 hari saya bisa mengkonsumsi jus brokoli 3 sampai 4 hari. Keren kaaaaan -____-
Tapi, meskipun saya rutin mengkonsumsi jus brokoli, benjolan itu gak berkurang (mungkin efeknya memang bukan kesitu,,hhee). Saya pun searching mengenai penyembuhan koloidal (yang akhirnya saya tahu nama penyakitnya adalah keloid). Ternyata, penyembuhan yang paling disarankan adalah dengan injeksi flamicort. sekarang saya sedang mengikuti proses tersebut, baru injeksi pertama senin lalu. Doakan yiaaa,,, selanjutnya saya usahakan akan berbagi mengenai keloid.

Buat saudara/i yang tinggal di daerah yang memiliki sumber brokoli, manfaatkanlah dengan bijak!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar