Berawal ketika semasa
SMA, pelajaran bahasa indonesia mengenai artikel yang intinya ngebahas tentang
brokoli (lupa judul artikelnya apa). Saat itu, penasaran banget ama yang
namanya brokoli itu kaya gimana (di tempat saya tinggal tidak terdapat penjual
brokoli). Di dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa brokoli dapat mengobati,
mencegah kanker (yang sudah besar bisa mengecil ukurannya). Tapi bukan
manfaatnya yang membuat saya paling penasaran melainkan bentuknya. Digambarkan
dia itu seperti bunga kol tetapi berwarna hijau, bau yang khas (sebagian orang
mengatakan baunya sangat tidak enak), dan harganya yang mahal jauh melebihi
harga bunga kol. Saya sampai bertanya pada penjual sayuran di pasar, namun satu
pun dari mereka tidak ada yang menjual dia. Ada ibu-ibu yang tahu, namun kata
beliau itu adanya di berastagih, di gunung, di tempat dingin. Alhasil, sampai
saya selesai SMA, saya belum pernah berjumpa dengan dia.
Tak disangka kalau akhirnya saya bisa melanjutkan
pendidikan di PTN UPI Bandung, program study pendidikan kimia. Dan secara tidak
direncanakan, saya makan di warteg (dekat dengan gank ke gedung kuliah saya).
Kalian tahu? Di warteg tersebut ada sayu dicampur dengan bihun putih, sangat
menarik, warna sayur tersebut hijau segar, bihunnya berwarna putih yang
dilumuri dengan tumisan yang sedikit kekuningan, ada irisan cabai merah dan
bawang goreng yang baru ditaburkan di atasnya. Saya langsung memilih menu
tersebut. Ketika saya memakannya, saya belum tahu nama sayur tersebut.
Alhasil, seiring seringnya saya makan di warteg
tersebut, si mba (panggilan
penjualnya yang mungkin hanya beberapa tahun lebih tua dari saya) kenal dengan
saya. Karna saya sudah merasa dekat, saya pun bertanya mengenai sayur tersebut
(menu tetap di warteg tersebut pada waktu antara pukul 09.30an hingga 12an).
Mba tersebut mengatakan bahwa sayur tersebut bernama BROKOLI. Spontan saya
mengulang “brokoli?” “yia” kata Mba tersebut. Dalam hati saya senang karna
akhirnya saya bisa mengenalnya bahkan sampai mencicipinya.
Tahun bertambah. Dan
saat itu sangat bumming mengenai kanker payudara. Saya pun sempat parno. Saya
search mengenai gejala-gejala pengidap kanker payudara tersebut. Saya melakukan
pendeteksian dini sendiri dan meyakini bahwa saya tidak mengidapnya. Sampai
suatu saat (kalau tidak salah ingat, saat itu tahun 2010) di daerah dada saya
ada benjolan kecil. Saya resah dan memilih memeriksakannya ke dokter di
poliklinik kampus, dokter tersebut memastikan bahwa saya tidak mengidap kanker
payudara, itu hanya koloidal. Dokter tersebut pun memberikan resep salep yang
saya beli di apotik (obat tersebut tidak ada di poliklinik kampus). Saat saya
ke apotik, teteh penjual memberikan salepnya (harganya Rp.110.000). Saya rutin
menggunakannya sesuai anjuran dokter. Tapi tidak ada perubahan apapun. Malah
yang dulunya tidak tersa nyeri, sekarang mulai terasa nyeri. Saya pun tidak
melanjutkan menggunakan salep tersebut.
Sekarang, tahun 2013, saya merasa benjolan tersebut
lebih besar dari awalnya. Saya tetap kuatir kalo itu adalah kanker. Saya
searching untuk menghentikan pertumbuhannya. Saya pun menyadari yang dapat
mengurangi pertumbuhan (bahkan bisa sampai sembuh total) adalah makanan yang
mengandung antioksidan (anti radikal bebas). Banyak jenis sumber makanan yang
dianjurkan(bisa search sendiri). Pilihan saya pun jatuh pada jenis yang pernah
membuat saya penasaran setengah mati, yang baru saya jumpai di kota bandung
ini, BROKOLI namanya.
Pendek cerita, saya akhirnya punya blender. Kali
pertama, saya merebus brokoli tersebut kemudian saya makan. Selanjutnya saya
rebus dan saya blender. Kemudian saya jenuh kalau harus merebus terlabih dahulu
(butuh waktu yang lama karna saya merebusnya menggunakan ricecooker; anak kosan
:P). Akhirnya saya searching lagi, ternyata dia boleh tanpa direbus langsung
dikonsumsi dan itu membuat kandungan(apa pun yang dikandungnya,,hhee) tidak
berkurang dan manfaatnya lebih baik daripada dimasak). Keputusan saya buat,
saya jus dia, saya saring, dan yang saya ambil hanyalah sarinya. Baunya yang
khas sempat membuat saya tidak ingin melanjutkan, tapi kembali lagi saya ingat
tujuan saya mengkonsumsinya. Satu yang membuat saya sangat mengagumi hasil
jus-an saya, warnanya yang hijau segar serasa membuat mata saya dingin dan
percaya kalau itu adalah obat mujarab. Saya minum (dengan menutup hidung).
Awalnya terasa berat. Beberapa teman mencemooh saya. Saya tetap
mengkonsumsinya. Setiap ke pasar, selalu menjadi bahan andalan yang tak
terlupakan. Saya sempat berpikir untuk mengkonsumsi dia minimal selama tiga
hari dalam seminggu. Dan sampai sekarang (12 June), saya masih mengkonsumsi
jusnya. Sekali ngejus, saya bisa minum 2-3 gelas jus brokoli dalam sehari. Dan
serasa menjadi kebiasaan, lewat dari dua hari saya tidak minum jus brokoli,
saya kerasa kecarian.
Trik yang saya gunakan, sekali belanja ke pasar,
saya beli brokoli minimal setengah kilo gram, jadi bisa untuk tiga kali (atau
empat kali) ngejus. Itu artinya, dalam 7 hari saya bisa mengkonsumsi jus
brokoli 3 sampai 4 hari. Keren kaaaaan -____-
Tapi, meskipun saya rutin mengkonsumsi jus brokoli,
benjolan itu gak berkurang (mungkin efeknya memang bukan kesitu,,hhee). Saya
pun searching mengenai penyembuhan koloidal (yang akhirnya saya tahu nama
penyakitnya adalah keloid). Ternyata, penyembuhan yang paling disarankan adalah
dengan injeksi flamicort. sekarang
saya sedang mengikuti proses tersebut, baru injeksi pertama senin lalu. Doakan
yiaaa,,, selanjutnya saya usahakan akan berbagi mengenai keloid.
Buat
saudara/i yang tinggal di daerah yang memiliki sumber brokoli, manfaatkanlah
dengan bijak!!