Sekarang tepat pukul 0:25 di notebook saya. Saya masih
terduduk di kamar.
Setelah selesai dari kamar mandi, saya tersadar bahwa dalam
hitungan jam, umur saya genap 23 tahun. Angka yang cukup. Cukup untuk saya
menyelesaikan S1. Cukup untuk saya mengabdikan diri. Cukup untuk saya
memberikan sedikit kebahagiaan untuk orangtua saya. Cukup untuk mulai
memikirkan adik-adik saya. Cukup untuk mulai fokus pada calon pasangan hidup
selamanya. Cukup untuk jadi dewasa. Yia,,cukup!!!
Awal tahun 2013 sungguh tak membuatku bahagia. 3 bulan
pertama di tahun 2013 saya hanya termenung dengan penuh air mata kesedihan. Tak
seorangpun mampu menghabiskan air mataku. Selalu ada dan siap untuk menetes.
Yia, berharap ada orang yang mampu menghentikan alirannya. Namun, selanjutnya
aku sadar, bukan manusia yang membuatnya terus mengalir, tapi skripsi. Jikalau
orang yang membuatnya terus mengalir, maka tentulah orang pula yang mampu
menghentikannya. Yia,, bukan manusia!!
Bulan keempat dan kelima di tahun yang masih sama, aku mulai
mampu mengusapnya. Tanganku kuat untuk sekadar menghilangkannya dari pipiku.
Sekedar dan sesaat!! Di sela hari-hariku dia masih menghiasi wajahku meski tak
terlihat oleh manusia yang lain. Pelupuk mataku hanya berbisik dan memastikan
bahwa hanya sementara.. aku terbuai dengan bisikan itu. Yia, terbuai dan tersadar
dia terlalu lama menyinggah.
Bulan keenam,, bulan yang benar-benar membuatku mengambil
keputusan..
Bulan ketujuh, kabar yang membuatku ingin berteriak
mengalahkan petir.. semua cara aku usahakan, semua bantuan aku cari, hampir
semua orang aku buat sibuk, waktu terasa bersahabat dengan semua itu. Gedung
fakultas, gedung UC, gedung BAUK, dan gedung BNI terasa menjadi saksi yang
berbicara sekeras-kerasnya pada orang yang kutemui. Gedung-gedung tersebut
berteriak: “hei kamu, bereskan urusan gadis itu!!!” beberapa manusia yang
kutemui mampu membuatku tegar, tapi lebih banyak membuatku benar-benar
menyerah. Bersyukur ada beberapa kakak yang benar-benar meluangkan waktunya dan
membuatku tahu “aku ada, Aku ada”.
Masih bulan ketujuh, ada kepastian dari seorang atasan.
Kepastian yang membuat kedua temanku berapi-api. Namun, aku sadar. Aku hanya
seperti air saat ini. Benar-benar seperti air. Aku mengalir dengan semua
peluang untuk meluluskanku. Bahkan ketika peluang itu telah penuh, aku kembali
dan memutar mencari peluang lain, aku ikhlas. Tak ada kebencian sedikitpun pada
siapapun. Peluangku diciptakan oleh yang empunya peluang terbesar.
Saat ini, bulan kedelapan di tahun 2013. Aku sedang ada pada
aliran peluang. Berusaha mengikuti aliran dengan semampuku. Bahkan ketika waktu
malam mengatakan berhenti, cukup, aku masih terus dengan peluang tersebut.
Sekali lagi aku katakan pada kalian yang membaca, aku bersyukur punya bapak dan
mama. Mereka punya cara lain untuk memberikan daya. Daya dari setiap kata
mereka mampu membuatku membiarkan air mata bangga ada di pelupuk mata.
Menghiasi setiap aliran peluang. Bahkan ketika peluang itu seakan habis, daya
dari mereka mampu menciptakan air mata untuk menemukan peluang yang lebih baik.
Thank God.
Pesan mamaku dalam bahasa batak: “orang cepat, ada yang mau
dikejar. Orang lama, karna ada yang ditunggu”
Setelah semalaman aku terpikat, ternyata keduanya sama-sama
menunggu. Bedanya, posisimu. Secara tersirat, saat mengejar kamu lelah berlari,
belum tentu yang kamu kejar diam di tempat. Menunggu, kamu lelah berdiam, belum
tentu yang kamu tunggu bergerak.
Entahlah, aku tak terlalu memusingkan dengan arti dari itu
semua. Aku hanya bersyukur dengan daya yang berusaha diberikan oleh mamaku
dengan penuh kelembutan tanpa menyakitkanku. Sedikitpun tidak menyakitkan.
(Andai kalian tahu arti pesan mamaku, mungkin kalian bisa memberitahuku di lain
waktu. Aku menunggu).
Aku rasa sekian dengan tulisan ini. Hanya curahan hati di
tengah malam. Di tengah semua peluang.
Peluangmu saat ini adalah peluang yang orang lain mungkin
tidak tahu. Temukan. Mengalirlah.
Kamis, 15 Agustus 2013;
01:02
Di: Kamar
Tertanda: emeL-emeL